Untuk membantu negara miskin dan berkembang dalam mengambil tindakan berkelanjutan dalam penanganan perubahan iklim termasuk dampak buruknya seperti banjir, kekeringan dan badai hebat, diperlukan dana setidaknya $ 30 miliar untuk tahun anggaran 2010 hingga 2012, sedang untuk tahun 2020 jumlahnya diperkirakan meningkat pesat hingga $100 milar
LintasCafe – Perwakilan dari negara-negara penghasil gas emisi terbesar di dunia berusaha untuk membuat kemajuan yang berarti dalam pembicaraan mengenai masalah pembiayaan jangka pendek untuk membantu negara-negara berkembang dalam menangani perubahan iklim global.
Hal tersebut dikatakan oleh juru runding Amerika Serikat untuk konferensi perubahan iklim, Todd Stern dalam pertemuan Forum negara maju untuk energi dan iklim di Amerika.
Menurut Stern, negara maju senantiasa berusaha untuk memperbaiki skema pembiayaan yang telah digariskan dalam Kesepakatan Kopenhagen agar segera tercipta titik temu.
Dalam pembicaraan di Kopenhagen, untuk membantu negara miskin dan berkembang dalam mengambil tindakan berkelanjutan dalam penangan perubahan iklim termasuk dampak buruknya seperti banjir, kekeringan dan badai hebat, diperlukan dana setidaknya $ 30 miliar untuk tahun anggaran 2010 hingga 2012, sedang untuk tahun 2020 jumlahnya diperkirakan meningkat pesat hingga $100 milar.
Pembicaraan mengenai anggaran saat ini sedang dibahas secara terpisah oleh sebuah panel PBB yang diketuai oleh Inggris dan Ethiopia.
Usai pertemuan, Stern mengatakan peserta pertemuan yang terdiri dari 17 negara maju termasuk India dan China, Uni Eropa dan Rusia mempunyai pandangan yang luas tentang apa yang dapat dilakukan dalam pertemuan tingkat tinggi berikutnya di Cancun, Meksiko akhir tahun ini, terutama dalam masalah pendanaan. [by]
| Newer: Sports Station dan PB PASI Gelar The Great Jakarta Walk | Older: Sequel Film Bond Tak Jelas Nasibnya |





reddit!
