July 5th, 2011 by LintasCafe

Pengaruh Pola Asuh Terhadap Status Gizi Anak

PENGARUH POLA ASUH ORANGTUA TERHADAP STATUS GIZI ANAK
Oleh : Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, MS (Guru Besar Pangan dan Gizi, Institut Pertanian Bogor)
Ibu yang rajin membawa anaknya ke Posyandu, akan semakin besar peluang bagi anaknya untuk berstatus gizi baik.

LintasCafe - Pola asuh anak mencakup “pola asuh makan” dan “pola asuh perawatan”. Orang tua yang mampu memberikan pola asuh yang baik maka status gizi anaknya juga akan baik. Ibu yang rajin membawa anaknya ke Posyandu, akan semakin besar peluang bagi anaknya untuk berstatus gizi baik.

Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran fisik (berat atau tinggi). Anak yang berstatus gizi baik juga berkembang kemampuannya, temasuk aktif (bergerak, berlari, lincah) dan tanggap (responsif terhadap stimulus).

Salah satu masalah sosial yang sedang dihadapi Bangsa Indonesia adalah masih rendahnya status gizi masyarakat. Hal ini antara lain terlihat dari berbagai masalah gizi seperti kurang gizi, anemia gizi besi, gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY), kurang vitamin A dan lain sebagainya.

Rendahnya status gizi jelas mempengaruhi kualitas sumber daya manusia, karena berkaitan dengan kecerdasan, daya tahan tubuh terhadap penyakit, kematian bayi, kematian ibu dan produktivitas kerja.

Persoalan anak kurus (kurang berat) atau pendek (kurang tinggi) perlu mendapatkan perhatian. Hasil Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2010 mengungkapkan, sepertiga anak balita (bawah lima tahun) Indonesia masuk kategori pendek (stunting), dan sekitar 17% mengalami gizi kurang / gizi buruk.

Stunting adalah cermin kekurangan gizi kronis yang berlangsung lama (bertahun-tahun). Akibatnya, anak Indonesia banyak yang mengalami hambatan pertumbuhan, yakni dengan rasio 3:10. Kualitas pangan yang dikonsumsi tergantung pada jenis asal pangan. Mereka yang mengonsumsi pangan lauk-pauk (telur, daging, ikan) secara cukup akan terhindar dari masalah stunting.

Yang kini dihadapi oleh rakyat (miskin) adalah sulitnya mengakses pangan hewani untuk meningkatkan asupan protein. Tanpa asupan protein yang cukup, bangsa ini sulit menjelma menjadi bangsa yang sehat fisiknya dan tinggi stature-nya.

Dampak stunting yang dialami anak-anak usia tiga tahun telah dipelajari. Ketika mereka memasuki usia sekolah, skor kemampuan membacanya lebih rendah 11-15 poin. Bahkan ketika dewasa, rata-rata penghasilan per kapita per tahun anak penderita stunting lebih rendah Rp 5,6 juta hingga Rp 7,7 juta dibandingkan anak normal.

Mengatasi dengan Pola Asuh yang Baik
Usia 1-3 tahun adalah periode emas untuk masa tumbuh kembang anak. Oleh sebab itu sangat penting pola asuh dan status gizi anak diperhatikan oleh para orang tua Indonesia. Kejadian gizi kurang dan gizi buruk umumnya terjadi setelah anak berusia 6 bulan karena sejak usia tersebut anak mulai dikenalkan pada makanan lumat, lembek, dan padat. Pada saat inilah asupan gizi anak seringkali menjadi kurang karena kualitas dan kuantitas makanan yang tidak memenuhi syarat gizi.

Telah sejak lama diketahui bahwa konsumsi pangan dan infeksi (morbiditas) dapat menjadi indikator penting terjadinya masalah gizi. Hubungan sinergistis antara infeksi dan kurang gizi dapat memperburuk kesehatan seorang anak.

Mengubah pola konsumsi pangan dari dominan karbohidrat menuju ke keseimbangan gizi (cukup pangan hewani, kacang-kacangan, sayuran dan buah) memang memerlukan waktu. Akses pangan di kalangan masyarakat harus mudah, ini berarti masyarakat harus mempunyai cukup daya beli.

Makanan yang berfungsi untuk mendukung pertumbuhan anak adalah pangan sumber protein (terutama), selain makanan sumber karbohidrat, mineral dan lainnya. Makanan berkualitas dengan kandungan protein tinggi (terutama pangan hewani) seringkali dikonsumsi kurang oleh anak-anak karena terbatasnya daya beli masyarakat.

Pangan hewani seperti susu, daging, telur, dan ikan di beberapa komunitas masih dianggap pangan mewah sehingga kecukupan konsumsinya belum menjadi prioritas. Oleh karena itu pengentasan persoalan gizi tidak bisa terlepas dari program-program untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sehingga masyarakat mampu membeli pangan yang bergizi.

Persoalan gizi mungkin pula disebabkan oleh rendahnya pengetahuan gizi ibu (pengasuh anak) sehingga hal ini berdampak pada kurang bermutunya makanan yang diberikan untuk anak.

Faktor penyebab lain adalah munculnya problema makan (masalah makan) pada usia batita yang menyebabkan orang tua (pengasuh) kurang sabar dalam menyuapi anaknya. Penelitian saya di beberapa kabupaten / kota dengan sampel anak-anak balita peserta Posyandu pada 2010 membuktikan kuatnya hubungan antara pola asuh terhadap status gizi anak (Ali Khomsan, 2010). Ada hubungan positif antara pola asuh yang dilakukan orang tua terhadap status gizi anaknya. Tercakup di dalam pola asuh ini adalah pola asuh makan maupun pola asuh dalam perawatan anak. Makna hubungan ini adalah: pentingnya orang tua memberikan pola asuh yang baik kepada anaknya agar asupan gizi menjadi lebih baik dan
dampaknya adalah anak semakin baik status gizinya.

Saya juga melakukan kajian tentang pentingnya peranan Posyandu di masyarakat untuk memastikan tumbuh kembang anak Indonesia agar optimal. Kajian mengungkapkan bahwa semakin sering ibu dan anak berpartisipasi ke Posyandu maka semakin besar peluangnya untuk berstatus gizi baik. Hal ini tidak terlepas dari sistem monitoring berat badan yang dilakukan Posyandu setiap bulan, sehingga setiap kali terjadi penyimpangan dalam pertumbuhan anak, maka segera dapat diperbaiki melalui perbaikan pola konsumsi pangan anak.

Sebagai penutup, saya melihat pentingnya 3 tanda TAT (Tumbuh, Aktif, dan Tanggap) dalam membantu para kader Posyandu dan orangtua mengukur dan mengamati masa pertumbuhan buah hati mereka secara optimal.

Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran fisik (berat atau tinggi) seorang anak. Anak yang sehat tidak hanya akan bertumbuh secara fisik tetapi juga berkembang kemampuannya. Oleh sebab itu, memiliki anak yang aktif (bergerak, berlari, lincah) dan tanggap (responsif terhadap stimulus) adalah harapan setiap orang tua. Untuk menjamin anak agar tumbuh, aktif, dan tanggap, maka selain asupan gizi yang cukup juga diperlukan pola asuh untuk memberikan rangsangan bagi perkembangan anak.

Otak seorang anak akan tumbuh lebih optimal bila mendapat stimulus (misalnya: tersedianya permainan edukatif). Diharapkan setiap orang tua di Indonesia kini lebih memperhatikan tumbuh kembang anaknya sehingga terlahir sumber daya manusia yang lebih berkualitas.

Berkaitan dengan pentingnya 3 tanda TAT Nestle DANCOW Batita. bekerjasama dengan Tim Penggerak PKK melakukan Gerakan Posyandu Tumbuh-Aktif-Tanggap dengan melakukan kegiatan pelatihan untuk para kader (kelas kader), mengadakan kunjungan ke Posyandu, kontes Posyandu dan gebyar Posyandu untuk menyosialisasikan 3 tanda: Tumbuh-Aktif-Tanggap kepada para orang tua dan keluarga agar mereka dapat memantau pertumbuhan fisik, gerak motorik, pola pikir serta kecerdasan emosi anak mereka yang berusia 1-3 tahun.

Nestlé DANCOW Batita telah menggelar pelatihan bagi para kader melalui program “Ayo ke Posyandu – TAT (Tumbuh- Aktif-Tanggap)” sejak 2008 dan hingga kini telah menjangkau lebih dari 10.000 kader di lebih dari 2.000 Posyandu di 14 provinsi serta melibatkan lebih dari 200.000 ibu rumah tangga.

Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, MS

Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, MS

PENGARUH POLA ASUH ORANGTUA TERHADAP STATUS GIZI ANAK
Oleh : Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, MS (Guru Besar Pangan dan Gizi, Institut Pertanian Bogor)

Newer: Older:

Forum LintasCafe

Live information from Forum LintasCafe

Seorang Pria Ditembak Orang Tak Dikenal di Jl Raya Bogor Saturday, 19 April 2014, 4:53 pm

Seorang Pria Ditembak Orang Tak Dikenal di Jl Raya BogorPenembakan terjadi di Jl Raya Bogor. Seorang pria ditembak orang tak dikenal.Source: [url=http://news.detik.com/read/2014/04/19/224421/2559715/1. […]

Source: Forum LintasCafe Forum LintasCafe |

Hindari Kopaja, Kijang Tabrak Separator Busway di Warung Buncit Saturday, 19 April 2014, 4:13 pm

Hindari Kopaja, Kijang Tabrak Separator Busway di Warung Buncit[html]Mobil Toyota Kijang bernopol B 1687 KVA menabrak pagar busway di H...

Source: Forum LintasCafe Forum LintasCafe |

Ada Percikan Api dari Rem Ban Belakang, Bus AKAP Terbakar di Serang Saturday, 19 April 2014, 3:36 pm

Ada Percikan Api dari Rem Ban Belakang, Bus AKAP Terbakar di Serang[html]Bus antar kota antar propinsi (AKAP), Asli ...

Source: Forum LintasCafe Forum LintasCafe |

Kedapatan Berbuat Asusila di Taman di DKI, 4 Pasangan Dinikahkan Saturday, 19 April 2014, 3:10 pm

Kedapatan Berbuat Asusila di Taman di DKI, 4 Pasangan Dinikahkan[html]Maraknya aksi muda-mudi yang memadu kasih dan rawannya tindakan kriminal di tengah taman kota membuat Pemprov DKI serta Dinas Pert. […]

Source: Forum LintasCafe Forum LintasCafe |

2 Pelaku Keributan di Cipayung Diduga Meminta 'Jatah Preman' Saturday, 19 April 2014, 2:52 pm

2 Pelaku Keributan di Cipayung Diduga Meminta 'Jatah Preman'[html]Polisi telah mengamankan DK (29) dan HS (35) pelaku keributan di ...

Source: Forum LintasCafe Forum LintasCafe |


comments powered by Disqus